var addthis_config = {"data_track_addressbar":true};

toneng.blogspot.com

Tampilkan postingan dengan label Artikel. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Artikel. Tampilkan semua postingan

Kamis, 29 November 2012

KEUTAMAAN MEMAHAMI NAMA-NAMA DAN SIFAT-SIFAT ALLAH AZZA WA JALLA

Oleh
Ustadz Abdullâh bin Taslîm al-Buthoni



Memahami nama-nama Allah Azza wa Jalla yang maha indah dan sifat-sifat-Nya yang maha sempurna merupakan pembahasan yang sangat penting dalam agama Islam, bahkan termasuk bagian paling penting dan utama dalam mewujudkan keimanan yang sempurna kepada Allah Azza wa Jalla . Karena tauhid ini adalah salah satu dari dua jenis tauhid yang menjadi landasan utama iman kepada Allah Azza wa Jalla.

Imam Ibnul Qayyim rahimahullah berkata: "Sendi utama (kunci pokok) kebahagiaan, keselamatan dan keberuntungan adalah dengan mewujudkan dua jenis tauhid yang merupakan landasan tegaknya iman kepada Allah Azza wa Jalla , yang akan Allah Azza wa Jalla wujudkan dengan mengutus para rasul-Nya. Inilah inti seruan para rasul dari yang pertama sampai yang terakhir. 

Yang pertama: Tauhid al-'ilmi al-khabari al-I'tiqâdi (tauhid yang berhubungan dengan ilmu/pemahaman, yang bersumber dari berita/wahyu Allah Azza wa Jalla semata-mata, dan menyangkut keyakinan dalam hati), yang mengandung penetapan sifat-sifat maha sempurna bagi Allah Azza wa Jalla , dan pensucian sifat-sifat-Nya dari penyerupaan (dengan sifat makhluk), serta peniadaan sifat-sifat yang menunjukkan kekurangan dari-Nya.

Yang kedua: Penghambaan diri kepada Allah Azza wa Jalla semata-mata dan tiada sekutu bagi-Nya, memurnikan kecintaan, keikhlasan, ketakutan, pengharapan dan penyandaran diri kepada Allah Azza wa Jalla , serta sikap ridha kepada Allah Azza wa Jalla rabb (pencipta), sembahan dan pelindung satu-satunya, dan tidak menjadikan tandingan bagi-Nya dengan segala sesuatu.

Allah Azza wa Jalla telah menghimpun dua jenis tauhid ini dalam dua surat al-Ikhlâsh[1] (dalam al-Qur'ân), yaitu surat:

قُلْ يَا أَيُّهَا الْكَافِرُونَ

Katakanlah: Hai orang-orang kafir [al-Kâfirun/109:1]

Surat ini mengandung tauhid al-'amali al-irâdi (tauhid yang menyangkut amal perbuatan dan kehendak/niat).

Dan surat:

قُلْ هُوَ اللَّهُ أَحَدٌ

Katakanlah: Dia-lah Allah Azza wa Jalla yang maha esa [al-Ikhlâsh/112:1]

Surat ini mengandung tauhid al-'ilmi al-khabari.

Dan masing-masing tauhid ini tidak bisa berdiri sendiri tanpa yang lainnya (keduanya saling menyempurnakan). Oleh karena itulah, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam selalu membaca kedua surat ini dalam shalat sunnat sebelum shalat subuh dan sesudah magrib, serta dua rakaat terakhir shalat witir. Shalat subuh dan maghrib merupakan pembuka dan penutup amal shalih (shalat), yang bertujuan untuk menjadikan tauhid sebagai permulaan dan penutup waktu siang hari"[2] .

Oleh karena itu, Syaikh Muhammad bin Shâlih al-'Utsaimîn rahimahullah ketika menjelaskan makna iman kepada Allah Azza wa Jalla, beliau berkata: "Iman kepada Allah Azza wa Jalla mengandung empat perkara: 

• Pertama : mengimani /meyakini keberadaan Allah Azza wa Jalla.
• Kedua : mengimani keesaan Allah Azza wa Jalla dalam ar-Rubûbiyyah (pencipta, pengatur dan pelindung bagi alam semesta).
• Ketiga : mengimani keesaan Allah Azza wa Jalla dalam al-ulûhiyyah (hak untuk disembah dan diibadahi).
• Keempat: mengimani semua nama dan sifat Allah Azza wa Jalla dengan cara yang sesuai dengan kemaha-sempurnaan dan kemaha-agungan-Nya, tanpa menyelewengkan makna, menolak, memvisualkan, dan menyerupakan (sifat-sifat-Nya dengan sifat-sifat makhluk). Maka barangsiapa yang menyelewengkan makna ayat-ayat dan hadits-hadits tentang sifat-sifat Allah Azza wa Jalla , berarti dia belum mewujudkan keimanan yang sempurna kepada Allah Azza wa Jalla "[3] .

Pentingnya Memahami Tauhid Asmâ` Wa Sifât 
Untuk memperjelas keterangan di atas, berikut ini kami akan sampaikan beberapa hal penting yang menunjukkan besarnya keutamaan memahami tauhid ini:

1. Memahami tauhid asmâ` wa shifât adalah ilmu yang paling agung dan paling utama secara mutlak, karena berhubungan langsungdengan Allah Azza wa Jalla , zat yang maha sempurna.
Imam Ibnul Qayyim rahimahullah berkata: "Sesungguhnya keutamaan suatu ilmu mengikuti keutamaan obyek yang dipelajarinya. karena keyakinan akan dalil-dalil dan bukti-bukti keberadaannya. juga karena besarnya kebutuhan dan manfaat untuk memahaminya. Maka tidak diragukan lagi, bahwa ilmu tentang Allah Azza wa Jalla , nama-nama, sifat-sifat dan perbuatan-perbuatan-Nya adalah ilmu yang paling agung dan paling utama. Perbandingan ilmu ini dengan ilmu-ilmu yang lain adalah seperti perbandingan (kemahasempurnaan) Allah Azza wa Jalla dengan semua obyek yang dipelajari (dalam) ilmu-ilmu lainnya"[4].

2. Memahami tauhid asmâ` wa shifât Allah Azza wa Jalla adalah landasan utama semua ilmu yang lainnya.
Ibnul Qayyim al-Jauziyyah rahimahullah berkata: "Ilmu tentang nama, sifat dan perbuatan Allah Azza wa Jalla adalah landasan semua ilmu. Semua ilmu lainnya mengikuti ilmu ini; yang juga dibutuhkan untuk mewujudkan keberadaan ilmu-ilmu lainnya. Sehingga ilmu ini merupakan asal dan landasan bagi setiap ilmu lainnya. Barangsiapa yang mengenal Allah Azza wa Jalla maka dia akan mengenal selain-Nya, dan barangsiapa yang tidak mengenal-Nya maka lebih lagi dia tidak akan mengenal selain-Nya. Allah Azza wa Jalla berfirman:

وَلَا تَكُونُوا كَالَّذِينَ نَسُوا اللَّهَ فَأَنْسَاهُمْ أَنْفُسَهُمْ ۚ أُولَٰئِكَ هُمُ الْفَاسِقُونَ

Dan janganlah kamu seperti orang-orang yang lupa (lalai) kepada Allah, maka Allah menjadikan mereka lupa kepada diri mereka sendiri, mereka itulah orang-orang yang fasik" [al-Hasyr/59:19]

Renungkanlah ayat ini, maka kalian akan menemukan di dalamnya suatu makna yang agung dan mulia, yaitu: barangsiapa yang lupa kepada Allah Azza wa Jalla , maka Allah Azza wa Jalla akan menjadikannya lupa kepada dirinya sendiri, sehingga dia tidak mengetahui hakekat dan kebaikan-kebaikan untuk dirinya sendiri. Bahkan dia melupakan jalan untuk kebaikan dan keberuntungan bagi dirinya di dunia dan akhirat. Karena dia telah berpaling dari fitrah yang Allah Azza wa Jalla jadikan bagi dirinya, lalu dia lupa kepada Allah Azza wa Jalla . Maka Allah Azza wa Jalla menjadikannya lupa kepada diri dan perilakunya sendiri, juga kepada kesempurnaan, kesucian dan kebahagiaan dirinya di dunia dan akhirat. Allah Azza wa Jalla berfirman

وَلَا تُطِعْ مَنْ أَغْفَلْنَا قَلْبَهُ عَنْ ذِكْرِنَا وَاتَّبَعَ هَوَاهُ وَكَانَ أَمْرُهُ فُرُطًا

Dan janganlah kamu mengikuti orang yang telah kami lalaikan hatinya dari mengingat Kami, serta menuruti hawa (nafsu)nya, dan keadaannya itu melampaui batas" [al-Kahfi/18:28]

Karena dia lalai mengingat Allah Azza wa Jalla, maka keadaan dan hatinya pun melampaui batas (menjadi rusak), sehingga dia tidak memperhatikan sedikitpun kebaikan, kesempurnaan, serta kesucian jiwa dan hatinya, bahkan kondisi hatinya menjadi tak menentu dan tidak terarah, keadaannya melampaui batas, merasa kebingungan, serta tidak mendapatkan petunjuk ke jalan yang benar.

Jadi, ilmu tentang Allah Azza wa Jalla adalah landasan semua ilmu, sekaligus merupakan landasan pemahaman seorang hamba terhadap kebahagiaan, kesempurnaan dan kebaikan (dirinya) di dunia dan akhirat. Ketidak-pahaman terhadap ilmu ini akan mengakibatkan ketidakpahaman terhadap kebaikan, kesempurnaan, kesucian dan kebahagiaan diri sendiri. Maka memahami ilmu ini adalah (kunci utama) kebahagiaan seorang hamba, dan ketidakpahaman tentangnya merupakan sumber (utama) kebinasaannya"[5].

3. Memahami tauhid asmâ` wa shifât Allah Azza wa Jalla dengan benar adalah satu-satunya pintu untuk bisa mengenal Allah Azza wa Jalla (ma'rifatullâh) dengan pengenalan yang benar, yang merupakan landasan ibadah kepada Allah Azza wa Jalla . Karena salah satu landasan utama ibadah adalah al-mahabbah (kecintaan) kepada Allah Azza wa Jalla dan hal itu tidak mungkin dicapai kecuali dengan mengenal Allah Azza wa Jalla dengan pengenalan yang benar melalui pemahaman terhadap tauhid nama-nama dan sifat-sifat-Nya. Sehingga orang yang tidak memiliki ma'rifatullâh (mengenal Allah Azza wa Jalla ) dengan benar, tidak mungkin bisa beribadah dengan benar kepada-Nya.[6]

Ibnul Qayyim rahimahullah berkata: "Barangsiapa yang mengenal Allah Azza wa Jalla dengan nama-nama, sifat-sifat dan perbuatan-perbuatan-Nya, maka dia pasti akan mencintai-Nya" [7]

Oleh karena itulah, Allah Azza wa Jalla menjelaskan keterkaitan antara ibadah kepada-Nya dan pemahaman terhadap nama-nama dan sifat-sifat-Nya dalam dua ayat al-Qur'ân:

Ayat yang pertama: 

وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنْسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ

Dan tidaklah Aku menciptakan jin dan manusia kecuali supaya mereka beribadah kepada-Ku [adz-Dzâriyât/51:56]

Ayat yang kedua: 

اللَّهُ الَّذِي خَلَقَ سَبْعَ سَمَاوَاتٍ وَمِنَ الْأَرْضِ مِثْلَهُنَّ يَتَنَزَّلُ الْأَمْرُ بَيْنَهُنَّ لِتَعْلَمُوا أَنَّ اللَّهَ عَلَىٰ كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ وَأَنَّ اللَّهَ قَدْ أَحَاطَ بِكُلِّ شَيْءٍ عِلْمًا

Allah-lah yang menciptakan tujuh langit dan seperti itu pula bumi. Perintah Allah berlaku padanya, agar kamu mengetahui (memahami) bahwasannya Allah maha kuasa atas segala sesuatu, dan sesungguhnya Allah, ilmu-Nya benar-benar meliputi segala sesuatu. [ath-Thalâq/65:12]

Kedua ayat ini menunjukkan bahwa ibadah kepada Allah Azza wa Jalla tidak akan mungkin dapat diwujudkan oleh seorang hamba dengan benar, kecuali setelah dia mengenal nama-nama dan sifat-sifat Allah Azza wa Jalla dengan pemahaman yang benar.[8] 

4. Ketakutan dan ketakwaan yang sebenarnya kepada Allah Azza wa Jalla hanya bisa dicapai dengan ma'rifatullâh (mengenal Allah Azza wa Jalla dengan cara yang benar), melalui pemahaman terhadap nama-nama dan sifat-sifat-Nya.

Allah Azza wa Jalla berfirman: 

إِنَّمَا يَخْشَى اللَّهَ مِنْ عِبَادِهِ الْعُلَمَاءُ

Sesungguhnya yang takut kepada Allah diantara hamba-hamba-Nya, hanyalah orang-orang yang berilmu (mengenal Allah)" [Fâthir/35:28]

Dalam hadits yang shahîh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam : "Sesungguhnya aku adalah orang yang paling bertakwa kepada Allah Azza wa Jalla dan paling mengenal-Nya di antara kamu sekalian"[9] .

Imam Ibnu Katsîr rahimahullah berkata: "Arti (ayat di atas): Hanyalah orang-orang yang berilmu dan mengenal Allah Azza wa Jalla yang memiliki rasa takut yang sebenarnya kepada Allah Azza wa Jalla , karena semakin sempurna pemahaman dan pengetahuan (seorang hamba) terhadap Allah Azza wa Jalla , zat yang maha mulia, maha kuasa dan maha mengetahui, yang memiliki sifat-sifat yang maha sempurna dan nama-nama yang maha indah, maka ketakutan (hamba tersebut) kepada-Nya semakin besar pula"[10] .

Imam Ibnul Qayyim rahimahullah berkata: "Semakin bertambah pengetahuan seorang hamba terhadap (nama-nama dan sifat-sifat) Allah Azza wa Jalla , maka semakin bertambah pula rasa takut dan pengagungannya kepada-Nya, yang kemudian pengetahuannya ini akan mewariskan perasaan malu, pengagungan, pemuliaaan, merasa selalu diawasi, kecintaan, bertawakal, selalu kembali, serta ridha dan tunduk kepada perintah Allah Azza wa Jalla ."[11] 

Syaikh `Abdurrahmân as-Sa'di rahimahullah berkata: "Semakin banyak pengetahuan seseorang terhadap (nama-nama dan sifat-sifat) Allah Azza wa Jalla , maka rasa takutnya kepada-Nya pun semakin besar, yang kemudian rasa takut ini menjadikan dirinya (selalu) menjauhkan dirinya dari perbuatan-perbuatan maksiat dan (senantiasa) mempersiapkan diri untuk berjumpa dengan Zat yang ditakutinya (Allah Azza wa Jalla )."[12] 

5. Memahami tauhid asmâ` wa shifât Allah Azza wa Jalla dengan benar adalah satu-satunya cara untuk bisa meraih kenikmatan dan kemuliaan tertinggi di dunia dan akhirat.
Dalam hadits yang shahîh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Jika penghuni surga telah masuk surga, Allah Azza wa Jalla berfirman: “Apakah kalian (wahai penghuni surga) menginginkan sesuatu sebagai tambahan (dari kenikmatan surga)?" Maka mereka menjawab: "Bukankah Engkau telah memutihkan wajah-wajah kami? Bukankah Engkau telah memasukkan kami ke dalam surga dan menyelamatkan kami dari (azab) neraka?" Maka (pada waktu itu) Allah Azza wa Jalla membuka hijâb (yang menutupi wajah-Nya yang maha mulia), dan penghuni surga tidak pernah mendapatkan suatu (kenikmatan) yang lebih mereka sukai dari pada melihat (wajah) Allah Azza wa Jalla .” kemudian Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam membaca ayat berikut:

لِلَّذِينَ أَحْسَنُوا الْحُسْنَىٰ وَزِيَادَةٌ

Bagi orang-orang yang berbuat kebaikan, ada pahala yang terbaik (surga) dan tambahannya (melihat wajah Allah Azza wa Jalla )” [Yûnus/10:26][13] 

Imam Ibnul Qayyim rahimahullah dalam kitab beliau “Ighâtsatul lahafân ”[14] menjelaskan bahwa kenikmatan tertinggi di akhirat ini (melihat wajah Allah Azza wa Jalla ) adalah balasan yang Allah Azza wa Jalla berikan kepada orang yang merasakan kenikmatan tertinggi di dunia, yaitu kesempurnaan dan kemanisan iman, kecintaan yang sempurna dan kerinduan untuk bertemu dengan-Nya, serta perasaan tenang dan bahagia ketika mendekatkan diri dan berzikir kepada-Nya [15] , yang semua ini merupakan buah dari pemahaman yang benar terhadap nama-nama dan sifat-sifat Allah Azza wa Jalla .

Beliau menjelaskan hal ini berdasarkan lafazh doa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam sebuah hadits yang shahîh: “Aku meminta kepada-Mu (ya Allah Azza wa Jalla ) kenikmatan memandang wajah-Mu (di akhirat nanti) dan aku meminta kepada-Mu kerinduan untuk bertemu dengan-Mu (sewaktu di dunia)…”[16].

Penutup
Beberapa poin yang kami sebutkan di atas menggambarkan kepada kita agungnya kedudukan tauhid asmâ` wa shifât Allah Azza wa Jalla dan besarnya keutamaan mempelajari dan memahaminya. Masih banyak poin lain yang tentu tidak mungkin disebutkan semuanya di sini.

Semoga tulisan ini bermanfaat dan menjadi motivasi bagi kita untuk semakin giat dan bersungguh-sungguh mempelajari ilmu agama, terutama ilmu tauhid yang merupakan landasan agama Islam ini.

Ya Allah Azza wa Jalla , aku meminta kepada-Mu kenikmatan memandang wajah-Mu (di akhirat nanti), dan aku meminta kepada-Mu kerinduan untuk bertemu dengan-Mu (sewaktu di dunia), tanpa adanya bahaya yang mencelakakan dan fitnah yang menyesatkan.

وَصَلَّى الله ُوَسَلَّمَ وَبَارِكْ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَأَلِهِ وَ صَحْبِهِ أَجْمَعِيْنَ , وَأَخِرُ دَعْوَاناَ أَنِ الْحَمْدُ ِللهِ رَبِّ اْلعَا لَمِيْنَ

Kota Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, 7 Jumadal Akhir 1430 H

[Disalin dari majalah As-Sunnah Edisi 04/Tahun XIII/1430H/2009M. Penerbit Yayasan Lajnah Istiqomah Surakarta, Jl. Solo-Purwodadi Km.8 Selokaton Gondangrejo Solo 57183 Telp. 0271-858197 Fax 0271-858196]



Sumber : http://almanhaj.or.id/content/3388/slash/0/keutamaan-memahami-nama-nama-dan-sifat-sifat-allah-azza-wa-jalla/

HAL-HAL YANG MENAKUTKAN DI ALAM KUBUR

Oleh
Ustadz Dr. Ali Musri Semjan Putra, M.A


Apabila kita mengamati nash-nash yang shahîh dari al-Qur`ân dan Sunnah serta di topang oleh pemahaman dan pandangan para Ulama dalam memahami nash-nash tersebut, maka diketahui bahwa manusia akan melewati empat alam kehidupan, yaitu: alam rahim, alam dunia, alam barzakh (kubur), alam akhirat. Semua proses kehidupan setiap alam tersebut memiliki kekhususan masing-masing, tidak bisa disamakan antara satu dengan lainnya. Misalnya alam rahim, mungkin saja bisa diketahui sebagian proses kehidupan di sana melalui peralatan kedokteran yang canggih, tapi di balik itu semua, masih banyak keajaiban yang tidak terungkap dengan jalan bagaimana pun. Semua itu merupakan rahasia yang sengaja Allah Azza wa Jalla tutup dari ilmu dan pandangan umat manusia. Allah Azza wa Jalla telah menerangkan dalam firman-Nya yang berbunyi: 

وَمَا أُوتِيتُمْ مِنَ الْعِلْمِ إِلَّا قَلِيلًا 

Tidaklah kalian diberi ilmu kecuali sedikit saja [al-Isrâ`/17:85]

Apalagi bila kita hendak berbicara tentang kehidupan alam kubur dan alam akhirat, tiada pintu yang bisa kita buka kecuali pintu keimanan terhadap yang ghaib, melalui teropong nash-nash al-Qur`ân dan Sunnah. Beriman dengan hal yang ghaib adalah barometer pembeda antara seorang Mukmin dengan seorang kafir, sebagaimana termaktub dalam firman Allah Azza wa Jalla :

ذَٰلِكَ الْكِتَابُ لَا رَيْبَ ۛ فِيهِ ۛ هُدًى لِلْمُتَّقِينَ الَّذِينَ يُؤْمِنُونَ بِالْغَيْبِ 

Kitab (al-Qur`ân) ini tidak ada keraguan padanya; petunjuk bagi mereka yang bertakwa (yaitu) mereka yang beriman kepada yang ghaib". [al-Baqarah/2:2-3]

Banyak nash dari al-Qur`ân dan Sunnah yang mengukuhkan persoalan ini, yang tidak mungkin diuraikan dalam tulisan yang singkat ini.

KEADAAN MANUSIA DI ALAM KUBUR
Setiap manusia yang hidup di dunia ini pasti akan melewati alam kubur. Alam ini disebut pula alam barzakh yang artinya perantara antara alam dunia dengan alam akhirat, sebagaimana firman Allah Azza wa Jalla.

حَتَّىٰ إِذَا جَاءَ أَحَدَهُمُ الْمَوْتُ قَالَ رَبِّ ارْجِعُونِ لَعَلِّي أَعْمَلُ صَالِحًا فِيمَا تَرَكْتُ ۚ كَلَّا ۚ إِنَّهَا كَلِمَةٌ هُوَ قَائِلُهَا ۖ وَمِنْ وَرَائِهِمْ بَرْزَخٌ إِلَىٰ يَوْمِ يُبْعَثُونَ

“Apabila kematian datang kepada seseorang dari mereka, ia berkata, "Ya Rabbku kembalikanlah aku (ke dunia) agar aku berbuat amal yang saleh terhadap yang telah aku tinggalkan. Sekali-kali tidak. Sesungguhnya itu adalah perkataan yang diucapkannya saja. Dan di hadapan mereka ada Barzakh (pembatas) hingga hari mereka dibangkitkan. [al-Mukminûn/23:99-100]

Para ahli tafsir dari Ulama Salaf sepakat mengatakan, "Barzakh adalah perantara antara dunia dan akhirat, atau perantara antara masa setelah mati dan hari kebangkitan [1]. "

Alam Barzakh dinamakan dengan alam kubur adalah karena keadaan yang umum terjadi. Karena pada umumnya jika manusia meninggal dunia, dia dikubur dalam tanah. Namun, bukan berarti orang yang tidak dikubur terlepas dari peristiwa-peristiwa alam barzakh. Seperti orang yang dimakan binatang buas, tenggelam di lautan, dibakar ataupun terbakar. Sebab Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu. Seperti yang diceritakan Rasulullâh n dalam sabdanya:

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ أَنَّ رَسُوْلَ اللَّهِ nقَالَ قَالَ رَجُلٌ لَمْ يَعْمَلْ خَيْرًا قَطُّ فَإِذَا مَاتَ فَحَرِّقُوْهُ وَاذْرُوْا نِصْفَهُ فِي الْبَرِّ وَنِصْفَهُ فِي الْبَحْرِ فَوَاللَّهِ لَئِنْ قَدَرَ اللَّهُ عَلَيْهِ لَيُعَذِّبَنَّهُ عَذَابًا لاَ يُعَذِّبُهُ أَحَدًا مِنْ الْعَالَمِيْنَ فَأَمَرَ اللَّهُ الْبَحْرَ فَجَمَعَ مَا فِيهِ وَأَمَرَ الْبَرَّ فَجَمَعَ مَا فِيهِ ثُمَّ قَالَ لِمَ فَعَلْتَ قَالَ مِنْ خَشْيَتِكَ وَأَنْتَ أَعْلَمُ فَغَفَرَ لَهُ

Dari Abu Hurairah Radhiyallahu anhu bahwa Rasulullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, "Seorang yang tidak pernah beramal baik sedikit pun berkata kepada keluarganya: apabila ia meninggal maka bakarlah dia, lalu tumbuk tulangnya sehalus-halusnya. Kemudian sebarkan saat angin kencang bertiup, sebagian di daratan dan sebagian lagi di lautan. Lalu ia berkata, ‘Demi Allah, jika Allah mampu untuk menghidupkannya, tentu Allah akan mengazabnya dengan azab yang tidak diazab dengannya seorang pun dari penduduk alam. Maka Allah memerintahkan lautan dan daratan untuk mengumpulkan debunya yang terdapat dalamnya. Maka tiba-tiba ia berdiri tegak. Lalu Allah bertanya kepadanya, “Apa yang mendorongnya untuk melakukan hal tersebut? [2]

Dari kisah di atas dapat kita lihat bagaimana seseorang tersebut berusaha untuk lari dari azab Allah Azza wa Jalla dengan cara yang menurut akal pikirannya dapat membuatnya lolos dan lepas dari azab Allah Azza wa Jalla. Tetapi hal tersebut tidak dapat melemahkan kekuasaan Allah Azza wa Jalla . Bila seandainya ada seseorang mau melakukan tipuan terhadap Allah Azza wa Jalla agar ia terlepas dari azab kubur, sesungguhnya kekuasan Allah Azza wa Jalla jauh lebih kuat daripada tipuannya. Pada hakikatnya yang ditipu adalah dirinya sendiri. 

Di alam kubur manusia akan mengalami kehidupan sampai terompet sangkakala ditiup oleh malaikat Israfil. Di sana ada yang bersukacita dan ada pula yang berdukacita, ada yang bahagia dan ada pula yang menderita. Sebagaimana yang diriwayatkan oleh Barâ' bin 'Azib Radhiyallahu anhu. Ia berkata, "Ketika kami menghadiri penguburan jenazah di perkuburan Baqi' Gharqad, Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam mendatangi kami lalu beliau duduk dan kami pun duduk di sekeliling beliau, seolah-olah ada burung yang hinggap di atas kepala kami (gambaran akan ketenangan Sahabat). Orang jenazah tersebut sedang digalikan lahatnya. Lalu Rasulullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam mengucapkan, "Aku berlindung kepada Allah dari azab kubur" sebanyak tiga kali. Selanjutnya beliau berkata, “Sesungguhnya seorang hamba apabila akan menjumpai kehidupan akhirat dan berpisah dengan kehidupan dunia, para malaikat turun mendatanginya, wajah mereka bagaikan matahari. Mereka membawa kain kafan dan minyak harum dari surga. Para malaikat tersebut duduk dengan jarak sejauh mata memandang. Kemudian malaikat maut mendatanginya dan duduk dekat kepalanya seraya berkata, “Wahai jiwa yang baik keluarlah menuju ampunan dan keridhaan Allah. Maka keluarlah ruh itu bagaikan air yang mengalir dari mulut cerek. Maka malaikat maut mengambil ruhnya. Bila ruh itu telah diambil, ia tidak membiarkan berada di tangannya walaupun sekejab mata hingga para malaikat (yang membawa kafan dan minyak harum) mengambilnya. Lalu mereka bungkus ruh itu dengan kafan dan minyak harum tersebut. Maka keluarlah darinya aroma, bagaikan aroma minyak kasturi yang paling harum di muka bumi. Mereka membawa ruh itu naik menuju (ke langit). Mereka melewati para malaikat yang bertanya, ‘Siapa bau harum yang wangi ini? Maka mereka menyebutnya dengan panggilan yang paling baik di dunia. Sampai naik ke langit, lalu mereka meminta dibukakan pintu langit, maka lalu dibukalah untuknya. Malaikat penghuni setiap langit mengiringinya sampai pada langit berikutnya. Dan mereka berakhir pada langit tempat Allah berada. Allah berkata, ‘Tulislah kitab hamba-Ku pada 'Illiyyin (tempat yang tinggi) dan kembalikan ia ke bumi, sesungguhnya Aku menciptakan mereka dari bumi, kemudian di sanalah mereka dikembalikan dan akan dibangkitkan kelak. Selanjutnya, ruhnya dikembalikan ke jasadnya. Lalu datanglah kepadanya dua malaikat, keduanya menyuruhnya untuk duduk. Kedua malaikat itu bertanya kepadanya, ‘Siapa Rabbmu?’ ia menjawab, ‘Rabbku adalah Allah’. ‘Apa agamamu?’ Ia menjawab agamaku Islam’. ‘Siapa orang yang diutus kepadamu ini?’ Ia menjawab, ‘Ia adalah Rasulullâh. ‘Apa ilmumu?’ Ia menjawab, ‘Aku membaca kitab Allah dan beriman dengannya’. Lalu diserukan dari langit, ‘Sungguh benar hambaku’. Maka bentangkanlah untuknya tikar dari surga. Dan bukakan baginya pintu surga. Maka datanglah kepadanya keharuman surga dan dilapangkan kuburnya sejauh mata memandang. Selanjutnya, datang kepadanya orang yang berwajah tampan, berpakaian bagus dan harum mewangi. Ia (orang berwajah tampan) berkata, ‘Bergembiralah dengan semua yang menyenangkanmu. Inilah hari yang dijanjikan untukmu. Maka ia (mayat) pun bertanya, ‘Siapa anda, wajahmu yang membawa kebaikan?’ Maka ia menjawab, ‘Aku adalah amalmu yang shaleh’. Ia bertanya lagi, ‘Ya Allah, segerakanlah kiamat agar aku bisa kembali kepada keluarga dan hartaku. 

Dan bila seorang kafir, ia berpindah dari dunia dan menuju ke alam akhirat. Dan para malaikat turun dari langit menuju kepadanya dengan wajah yang hitam. Mereka membawa kain ketan yang kasar, mereka duduk dengan jarak dari mayat sejauh mata memandang. Kemudian datanglah malaikat Maut duduk di dekat kepalanya. Ia berkata, ‘Wahai jiwa yang kotor, keluarlah menuju kemurkaan Allah. Selanjutnya, ruhnya pun menyebar ke seluruh tubuhnya dan malaikat Maut mencabut ruhnya dengan kuat seperti mencaput sisir besi dari ijuk yang basah. Bila ruh itu telah diambil, malaikat itu tidak membiarkannya sekejab mata di tangannya, sampai para malikat (ruh) meletakkannya pada kain ketan yang kasar tersebut. Kemudian ia mengeluarkan bau yang paling busuk di muka bumi. Selanjutnya para malaikat membawa naik ruh tersebut. Tiada malaikat yang mereka lewati kecuali mereka mengatakan, ‘Bau apa yang sangat keji ini?’ ia dipanggil dengan namanya yang paling jelek waktu di dunia. Sehingga arwahnya sampai pada langit dunia dan malaikat meminta pintunya dibuka, akan tetapi tidak diizinkan. Kemudian Rasulullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam membaca firman Allah

لَا تُفَتَّحُ لَهُمْ أَبْوَابُ السَّمَاءِ وَلَا يَدْخُلُونَ الْجَنَّةَ حَتَّىٰ يَلِجَ الْجَمَلُ فِي سَمِّ الْخِيَاطِ :

Tidak dibukakan untuk mereka pintu langit, dan mereka tidak akan masuk surga sampai onta masuk ke dalam lubang penjahit". [al-A`râf/7:40]

Setelah itu Allah Azza wa Jalla berkata, "Tulislah catatan amalnya di Sijjîn pada lapisan bumi yang paling bawah". Dan ruhnya dilemparkan jauh-jauh. Kemudian Rasulullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam membaca ayat:

وَمَنْ يُشْرِكْ بِاللَّهِ فَكَأَنَّمَا خَرَّ مِنَ السَّمَاءِ فَتَخْطَفُهُ الطَّيْرُ أَوْ تَهْوِي بِهِ الرِّيحُ فِي مَكَانٍ سَحِيقٍ 

Barangsiapa yang berbuat syirik kepada Allah, maka seolah-olah ia telah terjatuh dari langit lalu disambar oleh burung, atau diterbangkan oleh angin ke tempat yang jauh [al-Hajj/22:31]

Setelah itu ruhnya dikembalikan ke jasadnya, dan datang kepadanya dua orang malaikat yang menyuruhnya duduk. Kedua malaikat itu bertanya, ‘Siapa Rabbmu? ia menjawab, ‘Ha ha, aku tidak tahu’. Mereka bertanya lagi, ‘Siapakah orang yang diutus kepadamu ini?’ Ia menjawab, ‘Ha ha, aku tidak tahu’. Maka seseorang menyeru dari langit, ‘Sungguh ia telah berdusta’. Bentangkan tikar untuknya dari api neraka dan bukakan salah satu pinti neraka untuknya. Maka datanglah kepadanya angin panas neraka. Lalu kuburnya disempitkan sehingga tulang-tulang rusuknya saling berdempet. Kemudian datang kepadanya seorang yang bewajah jelek, berpakaian jelek dan berbau busuk. Orang itu berkata, ‘Berbahagialah dengan apa yang menyakitimu, inilah hari yang dijanjikan padamu. Lalu ia (mayat) bertanya, ‘Siapa engkau yang berwajah jelek?’ Ia menjawab, Aku adalah amalanmu yang keji’. Lalu mayat itu mengatakan, ,Rabb ku janganlah engkau datangkan Kiamat"[3] .

Jika seorang Muslim mau merenung sejenak bagaimana keadaan dan kondisi kehidupannya nanti di alam kubur. Niscaya ia akan menjauhi perbuatan maksiat dan dosa. Bayangkan, bagaimana keadaan kita ketika berada dalam sebuah lubang yang sempit lagi gelap, serta tidak ada cahaya sedikit pun. Betapa mencekam suasana gelap itu dan menimbulkan rasa takut yang dalam, napas terasa sesak, semakin lama semakin sulit untuk bernapas, rasa haus, lapar, panas, mau berteriak tidak seorang pun yang mendengar. 

Akan tetapi alam kubur jauh berbeda dari semua itu. Tidak hanya sebatas apa yang tergambar ketika kita berada dalam sebuah lubang sempit dan gelap. Suasana di sana akan ditentukan oleh amalan kita sewaktu di dunia. Orang yang beramal shaleh waktu di dunia, ia akan lulus dalam menjawab pertanyaan malaikat. Tidur di atas hamparan tikar dari surga, ditemani oleh orang berbau wangi dan berwajah tampan. Kemudian senantiasa mencium bau harum hembusan angin surga. 

Adapun orang yang ketika hidup di dunia bergelimang dosa dan maksiat, apalagi melakukan perbuatan syirik. Ia tidak akan bisa menjawab pertanyaan malaikat. Tidur di atas hamparan tikar dari api neraka, di temani oleh orang berbau busuk dan berwajah buruk. Kemudian ia senantiasa mencium bau busuk hembusan panas api neraka. Bahkan setiap manusia akan diperlihatkan tempat tinggalnya saat di alam kubur pada waktu pagi dan sore. Hal ini sebagaimana disebutkan oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam sabdanya: 

«إِنَّ أَحَدَكُمْ إِذَا مَاتَ عُرِضَ عَلَيْهِ مَقْعَدُهُ بِالْغَدَاةِ وَالْعَشِىِّ إِنْ كَانَ مِنْ أَهْلِ الْجَنَّةِ فَمِنْ أَهْلِ الْجَنَّةِ وَإِنْ كَانَ مِنْ أَهْلِ النَّارِ فَمِنْ أَهْلِ النَّارِ يُقَالُ هَذَا مَقْعَدُكَ حَتَّى يَبْعَثَكَ اللَّهُ إِلَيْهِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ » 

Apabila seseorang telah mati, akan diperlihatkan kepadanya tempat tinggalnya pada waktu pagi dan sore. Jika ia termasuk penghuni surga, maka diperlihatkan tempatnya di surga. Dan jika ia dari penghuni neraka maka diperlihatkan tempatnya di neraka. Kemudian dikatakan kepadanya, “Inilah tempatmu yang akan engkau tempati pada hari kiamat”. [HR Muslim no. 5110, Ahmad no. 5656, Mâlik no. 502]

Di antara hikmah diperlihatkannya tempat seseorang di akhirat kelak ketika berada di alam kubur adalah agar semakin menimbulkan rasa syukur dalam diri orang yang beramal shaleh. Ini adalah salah satu bentuk nikmat yang dirasakannya dalam alam kubur. Adapun bagi orang berbuat dosa, maka itu akan semakin menambah rasa kekecewaan dan penyesalan dalam dirinya. Ini adalah salah satu bentuk azab yang dialaminya dalam alam kubur. Hal ini sebagaimana disebutkan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam sabdanya:

لاَ يَدْخُلُ أَحَدٌ الْجَنَّةَ إِلاَّ أُرِيَ مَقْعَدَهُ مِنْ النَّارِ لَوْ أَسَاءَ لِيَزْدَادَ شُكْرًا وَلاَ يَدْخُلُ النَّارَ أَحَدٌ إِلاَّ أُرِيَ مَقْعَدَهُ مِنْ الْجَنَّةِ لَوْ أَحْسَنَ لِيَكُوْنَ عَلَيْهِ حَسْرَةً

Tidak seorang pun masuk ke dalam surga kecuali diperlihatkan kepadanya tempatnya di neraka. Seandainya ia berbuat jelek. Agar bertambah rasa syukurnya. Dan tidaklah seorang pun masuk ke dalam neraka kecuali diperlihatkan kepadanya tempatnya di surga, seandainya ia berbuat baik. Agar semakin bertambah atasnya rasa penyesalannya". [HR al-Bukhâri no. 10557]

Dalam riwayat lain disebutkan:

« إِنَّ الْعَبْدَ إِذَا وُضِعَ في قَبْرِهِ وَتَوَلَّى عَنْهُ أَصْحَابُهُ إِنَّهُ لَيَسْمَعُ قَرْعَ نِعَالِهِمْ ». قَالَ « يَأْتِيْهِ مَلَكَانِ فَيُقْعِدَانِهِ فَيَقُوْلاَنِ لَهُ مَا كُنْتَ تَقُوْلُ في هَذَا الرَّجُلِ ». قَالَ « فَأَمَّا الْمُؤْمِنُ فَيَقُولُ أَشْهَدُ أَنَّهُ عَبْدُ اللَّهِ وَرَسُولُهُ ». قَالَ « فَيُقَالُ لَهُ انْظُرْ إِلَى مَقْعَدِكَ مِنَ النَّارِ قَدْ أَبْدَلَكَ اللَّهُ بِهِ مَقْعَدًا مِنَ الْجَنَّةِ ». قَالَ نَبِيُّ اللَّهِ n « فَيَرَاهُمَا جَمِيعًا ». قَالَ قَتَادَةُ وَذُكِرَ لَنَا أَنَّهُ يُفْسَحُ لَهُ في قَبْرِهِ سَبْعُوْنَ ذِرَاعًا وَيُمْلأُ عَلَيْهِ خَضِرًا إِلَى يَوْمِ يُبْعَثُونَ

Apabila seorang hamba diletakkan di kuburnya, dan kerabatnya pergi meninggalkannya. Sesungguhnya ia mendengar derap terompah mereka. Kemudian datanglah kepadanya dua orang malaikat dan menyuruhnya duduk. Mereka bertanya kepadanya, ‘Apa perkataanmu tentang orang ini?’ Adapun orang Mukmin, maka ia akan menjawab, Aku bersaksi bahwa ia adalah hamba Allah dan utusan-Nya. Lalu dikatakan kepadanya, ‘Lihatlah tempatmu di neraka. Sungguh, Allah telah menukarnya dengan surga, maka ia melihat keduanya. berkata Qatâdah, ‘Disebutkan kepada kami bahwa kuburnya di luaskan tujuh puluh hasta, yang dipenuhi oleh tubuhan hijau sampai hari mereka dibangkit". [HR al-Bukhâri no. 1285, Muslim no. 5115, Ahmad no. 11823]

KESIMPULAN:
1. Azab kubur benar-benar ada, dan kita wajib beriman kepadanya karena ia adalah bagian dari beriman kepada yang ghaib.

2. Azab kubur bersifat umum bagi seluruh manusia, tidak khusus bagi umat nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam.

3. Di antara azab atau nikmat kubur ada yang berhubungan dengan ruh dan jasad secara bersamaan dan ada pula yang khusus berhubungan dengan ruh saja.

4. Semua ruh orang yang telah meninggal dunia berada di alam Barzakh, sekalipun ia pelaku maksiat atau orang kafir.

5. Seseorang tidak akan masuk surga atau neraka kecuali setelah terjadinya hari kiamat dan dibangkitnya seluruh manusia dari kuburnya. 

PELAJARAN DI BALIK KEIMANAN KEPADA AZAB KUBUR.
1. Menanamkan dalam diri seseorang sikap mawas diri dalam meninggalkan perintah-perintah agama.

2. Memiliki kemauan yang tinggi dalam melakukan amal shaleh, agar mendapat keberuntungan di alam kubur.

3. Menimbulkan rasa takut dalam diri seseorang untuk melakukan maksiat, agar terhindar dari azab kubur. Wallâhu a`lam

[Disalin dari majalah As-Sunnah Edisi 11/Tahun XIII/1431H/2010M. Penerbit Yayasan Lajnah Istiqomah Surakarta, Jl. Solo-Purwodadi Km.8 Selokaton Gondangrejo Solo 57183 Telp. 0271-858197 Fax 0271-858196]



Sumber : http://almanhaj.or.id/content/3436/slash/0/hal-hal-yang-menakutkan-di-alam-kubur/

Jumat, 09 Maret 2012

Zakat Menjawab Persoalan Kemiskinan

Oleh: Tgk. H. M. Iqbal, MA
Kepala Baitul Mal Aceh Timur

Kata “kemiskinan” bukanlah kosa kata baru dalam benak kita bangsa Indonesia. Bahkan karena terlalu akrabnya dengan kata tersebut, seakan kita tidak sadar bahwa kita sedang berada di dalamnya. Fakta menunjukkan bahwa sebagian besar dari bangsa ini kini berada di bawah garis kemiskinan.

Kita semua tahu bahwa dampak dari kemiskinan ini dapat merambat kepada sektor-sektor lainnya. Misalnya pada sektor keamanan. Kemiskinan akan mendorong maraknya tindak pencurian, perampokan, penjambretan dan sederet aksi kriminal yang lainnya. Karena kemiskinan, sektor kesehatan dan pendidikan pun ikut terancam.

Di bidang kesehatan, ditemukan masih banyak kasus gizi buruk yang berkaitan dengan kemiskinan. Di sektor pendidikan, kemiskinan jelas telah membuat para orang tua tidak punya kemampuan untuk menyekolahkan anaknya. Fenomena ini sangat ironis kedengarannya, tetapi inilah faktanya. Ironis memang, mengingat kondisi Indonesia sebagai negara yang amat kaya akan sumber daya alamnya, terkenal dengan zamrud khaltulistiwa yang sangat subur dan hijaunya, Indonesia juga adalah negara yang notabene mayoritas beragama Islam.

Islam sebenarnya sangat menekankan nilai keadilan dan pemerataan ekonomi. Bukankah salah satu pilar (rukun) agama Islam adalah zakat, di mana ia adalah simbol pemerataan dan pemberdayaan ekomomi umat!.

Pertanyaannya kemudian adalah ada apa dengan zakat? Padahal zakat sejak zaman Rasulullah Saw. sudah menjadi pilar perekomomian umat. Apakah sudah tidak ada lagi yang hendak mengeluarkan zakat? Apakah umat belum memahami apa itu zakat, apa urgensi dan manfaat zakat? atau apakah tidak ada lembaga atau organisasi (amil zakat) yang konsen dan profesional mengelola dana zakat? Sehingga dana itu belum bisa menyentuh kalangan fakir-miskin dan mengubah nasib malang mereka menjadi lebih baik?.

Untuk menjawab petanyaan-pertanyaan di atas, pertama, saya akan coba menggali ulang landasan teoritis pewajiban zakat ini sebagai sebuah penyegaran (refreshing). Paling tidak, ada tiga perspektif yang bisa kita gunakan untuk melihat urgensitas dari pewajiban zakat ini, yaitu perspektif teologis, psikologis, dan sosiologis.

Pertama, secara teologis, kita tidak perlu ragu lagi akan arti penting dari zakat ini. Dalam al-Qur’an terdapat 32 buah kata zakat, bahkan sebanyak 82 kali diulang sebutannya dengan memakai kata-kata sinonimnya. Dari 32 kata zakat yang terdapat dalam al-Qur’an tersebut, 29 diantaranya bergandengan dengan kata shalat. Hal ini mengisyaratkan bahwa sangatlah erat hubungan antara ibadah zakat dengan shalat. Shalat merupakan perwujudan hubungan dengan Tuhan, sedangkan zakat merupakan perwujudan hubungan dengan Tuhan dan sesama manusia.

Mengeluarkan zakat adalah perintah (kewajiban). Penggunaan Fill ‘Amr dalam kata ‘Athu jelas menunjukkan arti perintah (Lihat QS. 2 : 43, 83, 100; 33 : 33; 22 : 78; 24 : 56, dan 73 : 20). Maka mengeluarkan zakat berarti mentaati perintah. Di dalamnya terkandung makna kepatuhan dan kepasrahan total kepada Allah. Di samping itu juga, sesuai dengan ajaran Nabi Ibrahim, berzakat juga berarti bertauhid, mengesakan Allah dengan tidak mencintai selain dari pada Allah dan tidak mengaitkan hati selain kepada Allah. Orang tersebut tidak cinta dunia (harta).

Kedua, secara psikologis. Zakat jelas memberi dampak psikologis bagi orang yang menunaikannya (muzakki). Aktifitas ‘memberi’ akan membuat pelakunya merasa senang dan bahagia. Begitu juga dengan memberi zakat. Mengeluarkan zakat juga melatih dan membiasakan orang untuk bersikap ikhlas, menajamkan hati supaya lebih lembut dan tulus serta menumbuhkan kasih sayang.

Ketiga, adalah perspektif sosiologis, bahwa dana zakat akan sangat membantu orang yang menerimanya (mustahik). Zakat akan memperkecil kesenjangan sosial, meminimalisir jurang pemisah antara si kaya dan si miskin, serta dengan zakat akan tumbuh nilai kekeluargaan dan persaudaraan. Bukankah seorang muslim yang satu dengan yang lainnya adalah saudara? (QS. al-Hujurat : 10). Mana mungkin seorang saudara membiarkan saudara yang lainnya jatuh dalam kemiskinan dan kesengsaraan.

Begitulah landasan teoritisnya yang ideal, tetapi tidak begitu kenyataannya. Sampai pada level pengetahuan, mungkin masyarakat kita bisa dikatakan sudah sama-sama tahu apa itu zakat, tetapi pada level praksisnya ternyata masih perlu terus diingatkan dan didorong untuk selalu menunaikannya. Di sinilah urgensitas dari sebuah lembaga atau organisasi pengelola zakat (amilin).

Sejak awal Islam, Rasulullah Saw. telah memberi contoh tentang pentingnya amil zakat. Beliau mengangkat orang-orang tertentu untuk pengurusan zakat. Begitu juga dengan khulafaurrasyidin dan pemimpin-pemimpin sesudahnya. Karenanya keberadaan seorang/lembaga amil zakat adalah sebuah keharusan.

Zakat sebagai sarana pemberdayaan umat harus di organisir secara profesional dan modern. Hal ini berkaitan dengan tugas pokok amil zakat yaitu mengumpulkan zakat (collecting), mengelola zakat (managing), dan mendistribusikan zakat (distributing). Ketiga tugas tersebut harus benar-benar dilakukan dengan amanah dan profesional.

Pertama, pengumpunan zakat (collecting). Di zaman modern ini sistem pengumpulan zakat juga harus menggunakan cara-cara modern. Salah satunya adalah dengan mengusahakan sistem fundraising (jemput bola). Lembaga amil zakat jangan hanya menungu orang yang mau membayar zakatnya, tetapi harus proaktif.
Fundraising bisa dilakukan dengan cara presentasi secara langsung, bisa juga dengan menggunakan aneka media, seperti surat, barang cetakan (brosur, leaflet, dan poster), penerbitan (buku, bulletin, majalah, dan koran), atau iklan (dalam media cetak atau elektronik). Dengan cara ini diharapkan dana yang didapat bisa lebih besar sehingga langkah-langkah pemberdayaan ekonomi umat dalam rangka mengentaskan kemiskinan bisa lebih mudah direalisasikan.

Kedua, pengelolaan dana zakat (managing). Dana zakat yang telah terhimpun harus dikelola dengan baik. Dana zakat yang masuk (income) harus bisa diolah dan diberdayakan, sehingga tidak ada kesan “segera setelah dana zakat itu masuk, ia langsung keluar lagi dibagikan kepada mustahik”. Inovasi kreatif-inovatif harus senantiasa dilakukan sehingga manfaat dari zakat itu benar-benar bisa dirasakan secara optimal oleh umat.

Dana zakat yang terkumpul mungkin bisa diinvestasikan, dijadikan modal usaha (qardul hasan) untuk kalangan bawah, dibelikan kepada barang yang menghasilkan dan pengoperasiannya diserahkan kepada para mustahiq, misalnya dibelikan pada sepeda motor, mobil, dan bayak lagi contoh yang lainnya, yang penting bisa menghasilkan dan menambah kas dana zakat. Dengan cara ini diharapkan dana zakat yang ada bisa mempunyai dampak rambatan yang luas (multiplier effect) terhadap kehidupan ekonomi masyarakat.

Di antara pemanfaatan dana zakat saat ini adalah: Pertama, bersifat konsumtif-tradisional, yaitu zakat yang langsung dimanfaatkan oleh mustahiq sebagaimana zakat fitrah. Kedua, bersifat konsumtif-kreatif, yaitu zakat yang diwujudkan dalam bentuk lain dari barangnya semula seperti beasiswa. Ketiga, bersifat produktif-tradisional, yaitu zakat yang diberikan dalam bentuk barang-barang produktif misalnya kambing, sapi, mesin jahit, dan lain-lain. Dan keempat, bersifat produktif-kreatif, yaitu pendayagunaan zakat yang diwujudkan dalam bentuk modal yang dapat dipergunakan, baik untuk membangun suatu proyek sosial maupun untuk menambah modal seorang pedagang atau pengusaha kecil. Dua jenis pemanfaatan dana zakat yang terakhir ini adalah langkah inovatif dalam rangka memberdayakan dan meningkatkan perekonomian umat.

Tugas pokok amil zakat yang ketiga, pendistibusian dana zakat (distributing). Secara garis besar model pendistribusian dana zakat ini bisa dibedakan ke dalam 2 macam sesuai dengan kelompok penerimanya, pertama, kelompok penerima zakat yang masih produktif, dan kedua, kelompok mustahiq yang tidak produktif. Kelompok pertama diharapkan dapat meningkatkan nilai tambah.

Kelompok ini adalah fakir-miskin dari kalangan anak jalanan, ibn sabil, mu’allaf, gharim, dan sabilillah. Sedangkan kelompok kedua, yaitu fakir-miskin dari kalangan orang-orang uzur, jompo, orang gila, dan orang yang tidak ada kemungkinan untuk bekerja lagi, diharapkan untuk dapat membatasi diri dan merasa malu untuk meminta-minta.
Apabila ketiga tugas pokok amil zakat itu dilakukan dengan baik dan profesional maka zakat sebagai sarana pemberdayaan ekonomi umat akan lebih terasa manfaatnya. Oleh karena itu, lembaga amil zakat yang baik dan profesional adalah bagian dari solusi untuk mengentaskan kemiskinan di kalangan umat.

Masyarakat miskin sangat sulit memberdayakan dirinya sendiri. Pemberdayaan diri (self-empowerment) akan terjadi kalau ada pemberdayaan awal (initial-empowerment) dari pihak luar, dalam hal ini lembaga amil zakat yang profesional. Pemberdayaan masyarakat miskin melalui zakat memang tidak semudah dan secepat membalikkan telapak tangan. Dibutuh usaha keras dan waktu yang cukup lama.

Pemberdayaan ini juga membutuhkan beberapa syarat: pertama, adanya keberlanjutan (sustainable), kedua, ada batas waktu tertentu dengan menanamkan doktrin “memberi lebih baik dari menerima”, ketiga, dapat diukurnya faktor-faktor keberhasilan (measurable), secara kuantitatif maupun kualitatif, dan keempat, dapat menjadi jembatan bagi teguhnya hati pada iman dan ketaatan kepada Allah Swt. Mudah-mudahan dengan melakukan beberapa hal yang diutarakan di atas, pemberdayaan ekonomi ummat melalui zakat ini bisa menjadi kenyataan. Amin.

Jumat, 02 Maret 2012

Sekilas Tentang Jurnal Publik

Salam Redaksi
Puji syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa atas terbitnya edisi perdana surat kabar mingguan Jurnal Publik ini. Sebagai media mingguan, Jurnal Publik menyajikan beragam tema yang bersifat faktual. Objektif dan kontekstual terhadap tantangan yang ada dalam kehidupan sehari-hari.

Di edisi perdana ini, tim redaksi berusaha dan mencoba memberikan beragam informasi bagi para pembaca yang budiman. Beragam rubrik coba disajikan oleh redaksi, yang diisi oleh penulis-penulis muda dari berbagai kalangan. Rubrik Human Intersest yang tersedia berupa rubrik Utama, aspek Politik, Sosial, Hukum, Budaya, Pendidikan, Ekonomi, Gaya Hidup, Olah Raga. Dan dilengkapi rubrik Profil, Relasi dan Opini.

Pertumbuhan media massa yang cukup cepat menjadikan masyarakat semakin leluasa untuk mengakses dan memiliki berbagai informasi yang diinginkan. Masyarakat memiliki banyak pilihan untuk mengakses berbagai informasi yang disiarkan oleh berbagai media massa tersebut.

Pers, baik cetak maupun elektronik  merupakan instrumen dalam tatanan bermasyarakat yang sangat vital bagi peningkatan kualitas kehidupan warganya. Pers juga merupakan refleksi jati diri dari masyarakat di samping fungsinya sebagai media informasi dan komunikasi, karena apa yang dituangkan di dalam sajian pers hakikatnya  adalah denyut kehidupan masyarakat dimana pers berada.

Dalam perjalanannya Jurnal Publik diharapkan akan terus berkembang dan mampu pula menjadi media yang mendidik, mendorong kemajuan pola pikir dan sikap.

Pada edisi pertama, redaksi mengangkat tema “Politik”. Mengupas sosok calon Kepala Daerah, program-program yang tertuang dalam visi misinya serta alasan keinginan hatinya maju menjadi calon Kepala Daerah.

Redaksi sangat berharap adanya kontribusi dari para pembaca, baik itu karya tulis,kritik, saran maupun yang lainnya, sebagai bahan meningkatkan kualitas Surat Kabar Mingguan Jurnal Publik.

Akhir kata, Saya mewakili redaksi mengucapkan terimaksih dan selamat membaca.

Jumat, 24 Februari 2012

Budaya Malu ?

Oleh : Djamaluddin Sulaiman, SH, SPd, Msc
Kalau sekarang kita putar jarum jam mundur kebelakang sesuai dimensi waktu, alangkah berbedanya situasi dan kondisi di era masa lalu dengan situasi pada zaman kini. Sebagai mahluk sosial yang namanya manusia kita bisa membandingkan pra atau pasca keadaan sehari-hari.

Di era yang lalu pemimpin-pemimpin kita banyak memiliki budaya malu dan perasaan, keagamaan masih diyakini dengan benar tanpa membuat masalah-masalah yang fatal dan budaya malu masih melekat dan itu masih menyangkut masalah keimanan yang masih terpelihara dengan baik.

Nah...Kita bandingkan dengan situasi dan kondisi yang terjadi pada saat ini, dimana secara nyata budaya malu telah terkikis habis dan paling-paling hanya sedikit yang masih tersisa.

Perhatikan saja kasus-kasus besar yang terjadi baik di daerah maupun di pusat. Kita contohkan saja kasus Bank Century yang sampai sekarang belum terselesaikan atau dengan bahasa yang halus masih jalan ditempat.
Kemudian disusul lagi dengan kasus Wisma Atlit yang melibatkan petingi suatu partai yang berkuasa. Kita contohkan saja di Korea, seorang mantan presiden yang membuat kesalahan. Karena budaya malunya masih cukup tinggi hingga melakukan Suicide (Bunuh diri).

Di Jepang kalau ada kecelakaan kereta api atau pesawat udara, maka Menteri Perhubungannya rela mengundurkan diri, karena mereka masih memiliki budaya malu walaupun negara mereka tidak memiliki falsafah Pancasila seperti yang kita miliki.

Nah...Kita bisa melihat dengan jeli apakah budaya malu masih dimiliki oleh petinggi-petinggi di Negara kita? Tidak usah mengundurkan diri dengan suka rela, malah sudah sering kali dilakukan dengan unjuk rasa baik di daerah maupun di pusat.

Ironisnya yang didemo malah ngotot tidak mau mundur walaupun nyata-nyata mereka diindikasikan terlibat dengan berbagai kasus besar.

Quo Vadis para petinggi negara kita yang tidak memiliki budaya malu, dan kita harapkan mereka akan sadar KELAK.

Sabtu, 14 Januari 2012

Selamatkan Remaja Dari Dampak Negatif Derasnya Arus Globalisasi

Kota Langsa - Remaja sebagai tulang punggung bangsa merupakan harapan kita semua untuk bagaimana meningkatkan kualitas dan kuantitas dalam menghadapi era globalisasi. Karena potensi yang dimiliki remaja merupakan penentu bagi maju mundurnya kehidupan suatu generasi  dari sebuah bangsa. Sehingga remaja harus siap dan kuat menghadapi Globalisasi yang penuh dengan persaingan ketat dan tajam pada semua aspek kehidupan.

Melirik problematika remaja saat ini yang banyak kehilangan kepribadian diri sebagai bangsa indonesia. Hal ini ditunjukkan dengan gejala-gejala yang muncul dalam kehidupan sehari-hari remaja sekarang.

Di Kota Langsa sendiri, remaja sekarang cenderung mengikuti gaya barat dengan trend mode dan gaya hidup bebas, sehingga terjadi kemerosotan moral, watak, mental dan prilaku/etika hidup bermasyarakat dan berbangsa . Padahal cara berpakaian tersebut jelas-jelas tidak sesuai dengan kebudayaan kita .

Artinya globalisasi yang terjadi saat ini  terhadap keadaan remaja mempunyai pengaruh besar, misalnya dari identitas lokal sebagai suku aceh, para remaja saat ini sudah banyak kehilangan indentitas lokalnya sebagai orang aceh. Ini bisa dilihat dari seputar pengetahuannya tentang kebudayaan daerah yang kita miliki.

Banyak diantara mereka yang tidak mengenal budaya mereka, contoh kecilnya saja banyak remaja menyenangi lagu-lagu berbahasa asing ketimbang lagu-lagu daerah sendiri. Kemudian dari segi penampilan tidak kalah berkembang pesatnya sebagai dampak globalisasi terhadap remaja, gaya busana barat seringkali langsung ditiru oleh kebanyakan remaja sebagai bentuk mengikuti tren, tanpa menyeleksi busana yang harusnya sesuai dengan adat dan budaya timur.

Dulunya para remaja penampilannya terlihat biasa-biasa saja, sekarang  mengalami banyak perubahan, mulai dari mengecat rambut hingga mode pakaian yang tidak senonoh. Itu semua terjadi karena derasnya arus globalisasi yang begitu cepat merasuk kedalam masyarakat terutama kalangan remaja.

Globalisasi berpengaruh besar terhadap kehidupan suatu bangsa, globalisasi juga akan menimbulkan ancaman dan tantangan yang bisa berdampak negatif dan juga akan berdampak posotif bagi bangsa kita.

Telekomunikasi dan internet adalah adalah satu bidang yang mengalami perkembangan yang sangat pesat. Misalnya telepon genggam atau yang disebut hp adalah alat yang hampir dimilki oleh setiap orang, hp memiliki keterkaitan yang sangat erat dengan internet. Dimana keberadaan semua tekhnologi di era globalisasi tentu memberikan dampak, baik itu positif maupun negatif.

Melalui hp yang memiliki fasilitas internet , remaja dapat mengakses dengan mudah segala sesuatu, misalnya, informasi, berita, komunikasi, bahan belajar, musik, vidio dan lain sebagainya. Akan benilai baik apabila remaja kita menggunakan media tersebut untuk hal yang positif seperti mendukung kegiatan belajar mengajar, menambah informasi dan pengetahuan yang berguna serta kegiatan positif lainnya. Namun apabila remaja tidak mendapat pengawasan dan arahan yang baik, maka dampak negatiflah yang akan tertjadi.

Berdasarkan fakta yang beredar bahwa banyak remaja yang terjebak dalam dunia pornografi internet. Remaja dapat mengakses situs porno dengan bebas lewat internet, mereka juga dapat mendownload dan menyimpannya dengan menggunakan hp. H       p yang telah difasilitasi oleh orang tua kebanyakan telah disalahgunakan oleh para remaja.

Pornografi yang masuk melalui internet tentu akan memancing terjadinya pornoaksi dan meningkatnya tingkat kriminal sebagai buntut permasalahan. Hal ini tentunya akan berpengaruh terhadap pendidikan moral dan daya kembang pikiran remaja .

Nah, dampak yang terlihat menonjol akibat globalisasi terjadi pada remaja, remaja yang pada umumnya memiliki mental yang belum stabil dan rasa ingin tahu yang sangat tinggi, hal ini dikarenakan mereka sedang melalui masa peralihan dari masa anak-anak ke masa dewasa. Apabila mental remaja yang belum stabil ini tidak mendapat pengawasan dan pengarahan yang benar dan tepat oleh para orang tua serta lembaga pendidik, maka akan banyak sekali dampak negatif yang akan terjadi terhadap remaja.

Oleh karena itu, dalam era global ini perlu kita ketahui macam ancaman dan tantangan yang dihadapi oleh bangsa kita.

Tetapi globalisasi memiliki nilai manfaat dan nilai positif yang sangat berguna untuk perkembangan bangsa ini apabila kita melakukan kontrol bersama terhadap remaja. Untu itu para orang tua dan berbagai lembaga pendidikan harusnya saling menjaga remaja di negeri ini, dengan memberikan arahan yang benar.

Arahan dapat kita lakukan dengan cara menanamkan nilai agama, moral, etika sejak dini. Kita juga dapat memberikan pengajaran untuk memilih semua hal yang masuk melalui proses globalisasi yang mengandung nilai manfaat.

Jadi mari kita bersama menyelamatkan remaja di negeri ini dari dampak negatif derasnya arus globalisasi untuk kemajuan bangsa, karena remaja adalah geberasi penerus bangsa.

10 Kebiasaan Buruk Yang Menghambat Karier


Dalam dunia kerja banyak sekali hal yang harus kamu perhatikan karena ini sangat penting buat kamu, karena kamu pasti akan mengalaminya jika sudah bekerja nanti.

Apa saja sich yang harus diperhatikan ?
1.       Terlambat masuk.
Jika jam kerja mulai pukul 08.00 dan kamu masuk pukul 08.30 atau lebih,lama-lama akan muncul anggapan yang kurang baik buat kamu. Perilaku yang seperti ini akan membuat bos kamu mempunyai anggapan bahwa kamu belum cukup dewasa untuk mengemban tugas dan tanggungjawab yang lebih besar.

Solusinya : Kalau kamu mengalami kesulitan dalam mengatur waktu, kamu harus membiasakan menyiapkan semuanya sejak awal. Misalnya, menyiapkan pakaian dan dokumen serta keperluan lain sebelum tidur.

2.       Menunda-nunda pekerjaan.
Bila terbiasa menunda pekerjaan, Bos kamu akan menganggap kamu tidak bisa mengatur waktu dan tidak tau tugas apa sich yang harus dikerjakan.

Solusinya : Kamu harus merencanakan apa-apa yang mau dikerjakan setiap hari, bagi tugas dalam beberapa tahap.

3.       Takut melakukan kesalahan.
Dari sekian kebiasaan buruk, yang paling buruk adalah melakukan pekerjaan dibawah kemampuan kamu. Karena takut salah, kamu Cuma berani mengerjakan tugas yang biasa dilakukan. Padahal kesalahan hanyalah kehilangan kesempatan, ambil kesempatan sekali lagi.

Solusinya : Menuju proses kreatif, kamu harus lebih aktif dalam bergaul dan berbagi ide, jangantakut menyatakan pemikiran.

4.       Mencuri waktu.
Misalnya kamu ingin sekali mendapatkan tiket suatu konser sehingga harus bolos dan berbohong dengan mengatakan mau menengok saudara yang sakit, jangan seksali-kali melakukan hal ini.

Solusinya : Hentikan kebiasaan tersebut,  jangan biasakan ngobrol ditelpon atau belanja waktu istirahat hingga batas waktun istirahat habis.

5.       Sakit terus-menerus.
Terlalu sering sakit atau kedokter bisa menimbulkan pertanyaan tentang produktivitas kerja kamu. Menelpon pukul 10.00 pagi untuk meminta izin tidak masuk kantor karena kepala kamu sakit, kedengarannya seperti menghindar untuk bekerja. Teman-teman kerja kamu juga akan kesal karena harus mengerjakan tugas yang kamu tinggalkan.

Solusinya : Jaga kesehatan baik-baik dan amati tubuh kamu apakah bisa menyesuaikan diri dengan pekerjaan. Bisa jadi pekerjaan yang kamu lakukan membuat kamu sedikit tegang atau gugup karena tidak sesuai dengan kepribadian kamu.

6.       Berlsku bodoh.
Jangan menutupi kesalahan, kalau kamu mengakui kesalahan, itu membuat kamu menjadi karyawan yang berani dan jujur.

Solusinya : Kalau kwatir Bos kamu akan marah atas apa yang kamu lakukan, mintalah berbicara dengannya secara pribadi dan berjanji tidak akan mengulangi kesalahan yang sama. Ingat...mengakui kesalahan mengindikasikan kalau kamu itu sangat memperhatikan pekerjaan dan kamu sudah melakukan hal yang benar.

7.       Mengobral informasi.
Informasi khusus dan rahasia sangat berarti buat sekelompok orang. Kalau sampai jatuh ketangan yang salah, bisa membuat malu orang bersangkutan, bahkan bisa merugikan perusahaan.

Solusinya : Lebih baik kamu diam saja. Meman tidak enak disebut pendiam, apa lagi rasanya ingin sekali menceritakan rahasia yang diketahui pada orang lain. Ganti topik pembicaraan bila sudah menyerempet kearah yang sensitif.

8.       Menyepelekan orang lain.
Sebagian orang menganggap tidak apa-apa jika kita menggunjing rekan kerja. Tapi bayangkan jika orang yang duduk dibelakang kamu bercerita kepada orang lain tentang pertengkaran kamu dengan seseorang. Sekali mendapat julukan buruk, orang lain tidak akan mempercayai kamu, termasuk Bos kamu yang tidak ingin timnya kena pengaruh buruk kamu.

Solusinya : Jika sering menggosipkan rekan kerja, kamu harus kembali untuk tetap pada perspektif. Jika hanya punya teman di tempat kerja, kamu cenderung melihat segala sesuatu secara pribadi hingga bisa terjebak dengan gosip kamu sendiri. Carilah teman di luar kantor.

9.       Bermain Api.
Jangan membuat masalah. Misalnya, makan siang hanya dengan orang tertentu, membuat rekan yangb lain merasa terkesampingkan. Muncul interpretasi salah yang akan membuat kamu merasa tidak enak. Bahkan Bos kamu jadi curiga, bisa jadi kamu dituduh merencanakan untuk melawan.

Solusinya : Pandanglah suatu masalah dengan kepala dingin dan liat secara menyeluruh. Tanyakan pada diri, apakah saya bertentangan dengan tujuan perusahaan ? Mungkinkah hal ini menyebabkan masalah dimasa depan ?

10.   Asal bicara.
Jika menemui kendala dalam pekerjaan, wajar saja kalau kamu mengalami frustasi dan perlu melampiaskan. Tapi perhatikan siapa yang mendengarkan. Biasanya kamu tidak sadar, kesalahan seketika muncul saat berbicara.

Solusinya : Dari pada mengeluh terus, lebih baik membicarakan secara terbuka dengan bos. Alternatif lain, kamu dapat selalu memberitahukan perkembangan terbaru mengenai pekerjaan kamu kepada Bos. Kalau menemui kesulitan, jangan mengeluh, mintalah rekan kerja kamu dikantor untuk membantu atau minta nasihatnya. Paling tidak kamu sudah menunjukkan bahwa kamu selalu berusaha belajar dan selalu berkembang.
Dari berbagai sumber.