var addthis_config = {"data_track_addressbar":true};

toneng.blogspot.com

Sabtu, 01 Desember 2012

Banjir di Aceh Tenggara Rusak Fasilitas Umum dan Lahan Pertanian


Aceh Tenggara | Sejumlah fasilitas umum dan lahan pertanian di Kecamatan Deleng Phokisen da Lawe Bulan rusak akibat luapan sungai Lawe Kisam yang tak mampu menampung debit air setelah diguyur hujan deras beberapa waktu lalu.

Seperti sebuah  beronjong di salah satu Desa Kati Jeroh  yang dibangun dengan menggunakan dana PNPM ikut hanyut dibawa arus sungai.

Dari Pantauan wartawan, warga di sejumlah desa di kecamatan tersebut terpaksa mengungsi karena ketinggian air yang menggenangi desa mereka terus bertambah, bahkan arus sungai juga menyeret kayu gelondongan hingga ke pemukiman warga.

Selain itu sejumlah desa terisolir karena akses antar desa dikecamatan tersebut putus karena tergenang air. (rina/sd)

Wabup Atim Temui Keluarga Korban Boat Tenggelam

Aceh Tamiang | Wakil Bupati Aceh Timur Syahrul bin Syamaun menemui langsung keluarga korban boat tenggelam yang belum ditemukan, Jumat (30/11) siang, di posko pencarian korban di Kuala Simpang, Aceh Tamiang. 

Sesampai di posko pencarian korban, Wabup langsung menemui tim pencarian, yang terdiri dari tim SAR Aceh Timur, SAR Tamiang, dan Basarnas dari Banda Aceh. Wakil bupati berdialog dengan tim SAR dan menanyakan perkembangan pencarian korban atas nama Geugeut, guru  program SM3T asal Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) Bandung yang mengajar di SMPN 2 Simpang Jernih, Kecamatan Simpang Jernih yang belum ditemukan.

Wabup Syahrul bin Syamaun pada kesempatan tersebut didampingi oleh Kepala BPBD Elfiandi, Kepala Dinas Kebersihan dan Pemadam Kebakaran Ir M Yasin, Kabid Dikmen M Yakob MPd, dan Saed Abbas (pengawas TKSD). Khusus kepada BPBD, wabup meminta agar pencarian korban yang belum ditemukan  dilakukan selama tujuh hari, sampai hari Minggu.

Wabup menyatakan keprihatinan yang mendalam atas musibah tenggelam boat yang telah menelan korban jiwa. "Mereka yang korban adalah putera-puteri terbaik bangsa yang telah mengabdikan pendidikannya di pedalaman Aceh Timur. Kami sangat kehilangan, karena mereka datang untuk mencerdaskan anak- anak kami," kata Syahrul bin Syamaun di hadapan perwakilan UPI (Universitas Pendidikan Indonesia) Bandung dan keluarga Geugeut.

Disaksikan perwakilan UPI, wakil bupati juga menyerahkan bantuan uang tunai ala kadarnya kepada Irvan (32), keluarga Geuget. "Bantuan ini jangan dilihat dari angkanya, tapi ini merupakan kepedulian sesama. Kita berdoa agar korban segera ditemukan. Kepada keluarga kami harapkan untuk tabah. Ini adalah musibah," ujar wabup memberi semangat.

Pada kesempatan yang sama, wabup juga meminta agar program SM3T dari Kementerian Pendidikan Nasional tetap dilanjutkan demi mencerdaskan anak- anak bangsa khususnya Aceh Timur. "Terima kasih semua, kepada korban Winda, Geugeut, dan korban lainnya. Kami nyatakan rasa salut, ujarnya.

Sementara itu, Asep Mulyana dari UPI Bandung mengucapkan terima kasih kepada Wakil Bupati Syahrul bin Syamaun atas perhatian Pemkab Aceh Timur yang diberikan dalam pencarian korban tenggelam. Dia mengungkapkan, program SM3T ini akan tetap dilakukan dan dipantau oleh Kementerian Pendidikan Nasional."Nanti kita akan mengevaluasi dengan memberikan perlengkapan keamanan kepada guru-guru terpencil," kata Asep di hadapan wakil bupati.

Sebagaimana diketahui, boat yang mengangkut penumpang  tenggelam di aliran sungai Aceh Tamiang- Simpang Jernih atau disebut dengan kawasan Batu Katak, Senin (26/11) sekira pukul 17.00 WIB, tiga korban  sudah ditemukan oleh tim gabungan secara terpisah dalam kondisi tidak bernyawa lagi.

Sekda Aceh Timur Tutup Pelatihan Wawasan Kebangsaan dan Bela Negara


Kota Langsa | Sekretaris Daerah Kabupaten Aceh Timur Syaifannur SH MM menutup secara resmi kegiatan sosialisasi wawasan kebangsaan dan pelatihan bela Negara yang dilaksanakan di Makodim 0104 / Aceh Timur,Sabtu (1/12).

“Pemkab Aceh Timur selalu berkomitmen dan serius untuk meningkatkan pemahaman wawasan kebangsaan dan bela negara kepada seluruh elemen masyarakat melalui berbagai kegiatan dengan menjalin kerjasama serta kemitraan dengan berbagai instansi terkait,”. Ungkap Syaifannur dalam sambutannya pada penutupan sosialisasi wawasan kebangsaan dan bela Negara di halaman Makodim 0104/Aceh Timur.
            
Dijelaskannya, sosialisasi wawasan kebangsaan dan pelatihan bela Negara ini sebelumnya telah dilaksanakan selama empat hari yaitu sejak tanggal 27 November sampai 1 Desember 2012 yang diikuti 50 orang peserta dari 24 kecamatan dalam wilayah Kabupaten Aceh Timur. 

“Kegiatan ini merupakan bukti nyata keseriusan Pemkab Aceh Timur,”. Ujarnya.
            
Syaifannur mengemukakan, sebagaimana telah dimaklumi bahwa sasaran yang akan dicapai dengan dilaksanakannya kegiatan ini adalah untuk meningkatkan kesadaran elemen masyarakat dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. 

“Selain itu juga diharapkan dapat mempertebal komitmen untuk menjaga integritas bangsa,”.Tugasnya.
            
Menurutnya, tidak dapat dipungkiri bahwa pengaruh globalisasi dan kemajuan teknologi dapat berpengaruh terhadap pemahaman nilai kebangsaan, bahkan bisa juga mengarah kepada ancaman disintegritas bangsa. 

“Sebab,dalam realitas kehidupan berbangsa dan bernegara telah banyak terjadi pergeseran pemahaman nilai-nilai kebangsaan masyarakat akibat maraknya informasi yang belum tentu benarnya sehingga mempengaruhi masyarakat,”. Terang Syaifannur lagi.
            
Oleh karena itu, sangat perlu kewaspadaan dari semua jajaran terkait guna mengantisipasi dan memberikan pemahaman yang benar kepada masyarakat sehingga eksistensi bangsa tetap terjaga dari pengaruh negatif. 

“Keempat pilar kehidupan berbangsa dan bernegara yaitu Pancasila,UUD 1945,Bhineka Tunggal Ika dan NKRI harus selalu dijaga dan dipelihara sebagai pedoman dalam kehidupan berbangsa dan bernegara,”. Sebutnya.
            
Dalam kesempatan tersebut Sekda Aceh Timur mengharapkan agar segala pembekalan yang telah diperoleh selama mengikuti kegiatan sosialisasi ini dapat diimplementasikan dalam rangka meningkatkan kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara.
            
Sementara itu,Komandan Komando Distrik Militer (Dandim) 0104/Aceh Timur Letkol Muhammad Hasan seusai penutupan sosialisasi wawasan kebangsaan dan bela negara mengatakan, kegiatan yang telah berlangsung ini merupakan gelombang pertama dan akan berlanjut di tahun 2013 mendatang.
            
“Diharapkan  unsur-unsur masyarakat di Aceh Timur yang telah ikut program ini nantinya akan bisa menjadi pelopor dalam pemahaman  wawasan kebangsaan dan bela negara,”. Pinta Muhammad Hasan sembari menambahkan, materi yang diberikan pada pelatihan meliputi keagamaan, narkoba, pancasila, UUD 1945, sejarah Aceh dan sejarah Indonesia serta UU No 11 tentang Pemerintahan Aceh.


Kamis, 29 November 2012

KEUTAMAAN MEMAHAMI NAMA-NAMA DAN SIFAT-SIFAT ALLAH AZZA WA JALLA

Oleh
Ustadz Abdullâh bin Taslîm al-Buthoni



Memahami nama-nama Allah Azza wa Jalla yang maha indah dan sifat-sifat-Nya yang maha sempurna merupakan pembahasan yang sangat penting dalam agama Islam, bahkan termasuk bagian paling penting dan utama dalam mewujudkan keimanan yang sempurna kepada Allah Azza wa Jalla . Karena tauhid ini adalah salah satu dari dua jenis tauhid yang menjadi landasan utama iman kepada Allah Azza wa Jalla.

Imam Ibnul Qayyim rahimahullah berkata: "Sendi utama (kunci pokok) kebahagiaan, keselamatan dan keberuntungan adalah dengan mewujudkan dua jenis tauhid yang merupakan landasan tegaknya iman kepada Allah Azza wa Jalla , yang akan Allah Azza wa Jalla wujudkan dengan mengutus para rasul-Nya. Inilah inti seruan para rasul dari yang pertama sampai yang terakhir. 

Yang pertama: Tauhid al-'ilmi al-khabari al-I'tiqâdi (tauhid yang berhubungan dengan ilmu/pemahaman, yang bersumber dari berita/wahyu Allah Azza wa Jalla semata-mata, dan menyangkut keyakinan dalam hati), yang mengandung penetapan sifat-sifat maha sempurna bagi Allah Azza wa Jalla , dan pensucian sifat-sifat-Nya dari penyerupaan (dengan sifat makhluk), serta peniadaan sifat-sifat yang menunjukkan kekurangan dari-Nya.

Yang kedua: Penghambaan diri kepada Allah Azza wa Jalla semata-mata dan tiada sekutu bagi-Nya, memurnikan kecintaan, keikhlasan, ketakutan, pengharapan dan penyandaran diri kepada Allah Azza wa Jalla , serta sikap ridha kepada Allah Azza wa Jalla rabb (pencipta), sembahan dan pelindung satu-satunya, dan tidak menjadikan tandingan bagi-Nya dengan segala sesuatu.

Allah Azza wa Jalla telah menghimpun dua jenis tauhid ini dalam dua surat al-Ikhlâsh[1] (dalam al-Qur'ân), yaitu surat:

قُلْ يَا أَيُّهَا الْكَافِرُونَ

Katakanlah: Hai orang-orang kafir [al-Kâfirun/109:1]

Surat ini mengandung tauhid al-'amali al-irâdi (tauhid yang menyangkut amal perbuatan dan kehendak/niat).

Dan surat:

قُلْ هُوَ اللَّهُ أَحَدٌ

Katakanlah: Dia-lah Allah Azza wa Jalla yang maha esa [al-Ikhlâsh/112:1]

Surat ini mengandung tauhid al-'ilmi al-khabari.

Dan masing-masing tauhid ini tidak bisa berdiri sendiri tanpa yang lainnya (keduanya saling menyempurnakan). Oleh karena itulah, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam selalu membaca kedua surat ini dalam shalat sunnat sebelum shalat subuh dan sesudah magrib, serta dua rakaat terakhir shalat witir. Shalat subuh dan maghrib merupakan pembuka dan penutup amal shalih (shalat), yang bertujuan untuk menjadikan tauhid sebagai permulaan dan penutup waktu siang hari"[2] .

Oleh karena itu, Syaikh Muhammad bin Shâlih al-'Utsaimîn rahimahullah ketika menjelaskan makna iman kepada Allah Azza wa Jalla, beliau berkata: "Iman kepada Allah Azza wa Jalla mengandung empat perkara: 

• Pertama : mengimani /meyakini keberadaan Allah Azza wa Jalla.
• Kedua : mengimani keesaan Allah Azza wa Jalla dalam ar-Rubûbiyyah (pencipta, pengatur dan pelindung bagi alam semesta).
• Ketiga : mengimani keesaan Allah Azza wa Jalla dalam al-ulûhiyyah (hak untuk disembah dan diibadahi).
• Keempat: mengimani semua nama dan sifat Allah Azza wa Jalla dengan cara yang sesuai dengan kemaha-sempurnaan dan kemaha-agungan-Nya, tanpa menyelewengkan makna, menolak, memvisualkan, dan menyerupakan (sifat-sifat-Nya dengan sifat-sifat makhluk). Maka barangsiapa yang menyelewengkan makna ayat-ayat dan hadits-hadits tentang sifat-sifat Allah Azza wa Jalla , berarti dia belum mewujudkan keimanan yang sempurna kepada Allah Azza wa Jalla "[3] .

Pentingnya Memahami Tauhid Asmâ` Wa Sifât 
Untuk memperjelas keterangan di atas, berikut ini kami akan sampaikan beberapa hal penting yang menunjukkan besarnya keutamaan memahami tauhid ini:

1. Memahami tauhid asmâ` wa shifât adalah ilmu yang paling agung dan paling utama secara mutlak, karena berhubungan langsungdengan Allah Azza wa Jalla , zat yang maha sempurna.
Imam Ibnul Qayyim rahimahullah berkata: "Sesungguhnya keutamaan suatu ilmu mengikuti keutamaan obyek yang dipelajarinya. karena keyakinan akan dalil-dalil dan bukti-bukti keberadaannya. juga karena besarnya kebutuhan dan manfaat untuk memahaminya. Maka tidak diragukan lagi, bahwa ilmu tentang Allah Azza wa Jalla , nama-nama, sifat-sifat dan perbuatan-perbuatan-Nya adalah ilmu yang paling agung dan paling utama. Perbandingan ilmu ini dengan ilmu-ilmu yang lain adalah seperti perbandingan (kemahasempurnaan) Allah Azza wa Jalla dengan semua obyek yang dipelajari (dalam) ilmu-ilmu lainnya"[4].

2. Memahami tauhid asmâ` wa shifât Allah Azza wa Jalla adalah landasan utama semua ilmu yang lainnya.
Ibnul Qayyim al-Jauziyyah rahimahullah berkata: "Ilmu tentang nama, sifat dan perbuatan Allah Azza wa Jalla adalah landasan semua ilmu. Semua ilmu lainnya mengikuti ilmu ini; yang juga dibutuhkan untuk mewujudkan keberadaan ilmu-ilmu lainnya. Sehingga ilmu ini merupakan asal dan landasan bagi setiap ilmu lainnya. Barangsiapa yang mengenal Allah Azza wa Jalla maka dia akan mengenal selain-Nya, dan barangsiapa yang tidak mengenal-Nya maka lebih lagi dia tidak akan mengenal selain-Nya. Allah Azza wa Jalla berfirman:

وَلَا تَكُونُوا كَالَّذِينَ نَسُوا اللَّهَ فَأَنْسَاهُمْ أَنْفُسَهُمْ ۚ أُولَٰئِكَ هُمُ الْفَاسِقُونَ

Dan janganlah kamu seperti orang-orang yang lupa (lalai) kepada Allah, maka Allah menjadikan mereka lupa kepada diri mereka sendiri, mereka itulah orang-orang yang fasik" [al-Hasyr/59:19]

Renungkanlah ayat ini, maka kalian akan menemukan di dalamnya suatu makna yang agung dan mulia, yaitu: barangsiapa yang lupa kepada Allah Azza wa Jalla , maka Allah Azza wa Jalla akan menjadikannya lupa kepada dirinya sendiri, sehingga dia tidak mengetahui hakekat dan kebaikan-kebaikan untuk dirinya sendiri. Bahkan dia melupakan jalan untuk kebaikan dan keberuntungan bagi dirinya di dunia dan akhirat. Karena dia telah berpaling dari fitrah yang Allah Azza wa Jalla jadikan bagi dirinya, lalu dia lupa kepada Allah Azza wa Jalla . Maka Allah Azza wa Jalla menjadikannya lupa kepada diri dan perilakunya sendiri, juga kepada kesempurnaan, kesucian dan kebahagiaan dirinya di dunia dan akhirat. Allah Azza wa Jalla berfirman

وَلَا تُطِعْ مَنْ أَغْفَلْنَا قَلْبَهُ عَنْ ذِكْرِنَا وَاتَّبَعَ هَوَاهُ وَكَانَ أَمْرُهُ فُرُطًا

Dan janganlah kamu mengikuti orang yang telah kami lalaikan hatinya dari mengingat Kami, serta menuruti hawa (nafsu)nya, dan keadaannya itu melampaui batas" [al-Kahfi/18:28]

Karena dia lalai mengingat Allah Azza wa Jalla, maka keadaan dan hatinya pun melampaui batas (menjadi rusak), sehingga dia tidak memperhatikan sedikitpun kebaikan, kesempurnaan, serta kesucian jiwa dan hatinya, bahkan kondisi hatinya menjadi tak menentu dan tidak terarah, keadaannya melampaui batas, merasa kebingungan, serta tidak mendapatkan petunjuk ke jalan yang benar.

Jadi, ilmu tentang Allah Azza wa Jalla adalah landasan semua ilmu, sekaligus merupakan landasan pemahaman seorang hamba terhadap kebahagiaan, kesempurnaan dan kebaikan (dirinya) di dunia dan akhirat. Ketidak-pahaman terhadap ilmu ini akan mengakibatkan ketidakpahaman terhadap kebaikan, kesempurnaan, kesucian dan kebahagiaan diri sendiri. Maka memahami ilmu ini adalah (kunci utama) kebahagiaan seorang hamba, dan ketidakpahaman tentangnya merupakan sumber (utama) kebinasaannya"[5].

3. Memahami tauhid asmâ` wa shifât Allah Azza wa Jalla dengan benar adalah satu-satunya pintu untuk bisa mengenal Allah Azza wa Jalla (ma'rifatullâh) dengan pengenalan yang benar, yang merupakan landasan ibadah kepada Allah Azza wa Jalla . Karena salah satu landasan utama ibadah adalah al-mahabbah (kecintaan) kepada Allah Azza wa Jalla dan hal itu tidak mungkin dicapai kecuali dengan mengenal Allah Azza wa Jalla dengan pengenalan yang benar melalui pemahaman terhadap tauhid nama-nama dan sifat-sifat-Nya. Sehingga orang yang tidak memiliki ma'rifatullâh (mengenal Allah Azza wa Jalla ) dengan benar, tidak mungkin bisa beribadah dengan benar kepada-Nya.[6]

Ibnul Qayyim rahimahullah berkata: "Barangsiapa yang mengenal Allah Azza wa Jalla dengan nama-nama, sifat-sifat dan perbuatan-perbuatan-Nya, maka dia pasti akan mencintai-Nya" [7]

Oleh karena itulah, Allah Azza wa Jalla menjelaskan keterkaitan antara ibadah kepada-Nya dan pemahaman terhadap nama-nama dan sifat-sifat-Nya dalam dua ayat al-Qur'ân:

Ayat yang pertama: 

وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنْسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ

Dan tidaklah Aku menciptakan jin dan manusia kecuali supaya mereka beribadah kepada-Ku [adz-Dzâriyât/51:56]

Ayat yang kedua: 

اللَّهُ الَّذِي خَلَقَ سَبْعَ سَمَاوَاتٍ وَمِنَ الْأَرْضِ مِثْلَهُنَّ يَتَنَزَّلُ الْأَمْرُ بَيْنَهُنَّ لِتَعْلَمُوا أَنَّ اللَّهَ عَلَىٰ كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ وَأَنَّ اللَّهَ قَدْ أَحَاطَ بِكُلِّ شَيْءٍ عِلْمًا

Allah-lah yang menciptakan tujuh langit dan seperti itu pula bumi. Perintah Allah berlaku padanya, agar kamu mengetahui (memahami) bahwasannya Allah maha kuasa atas segala sesuatu, dan sesungguhnya Allah, ilmu-Nya benar-benar meliputi segala sesuatu. [ath-Thalâq/65:12]

Kedua ayat ini menunjukkan bahwa ibadah kepada Allah Azza wa Jalla tidak akan mungkin dapat diwujudkan oleh seorang hamba dengan benar, kecuali setelah dia mengenal nama-nama dan sifat-sifat Allah Azza wa Jalla dengan pemahaman yang benar.[8] 

4. Ketakutan dan ketakwaan yang sebenarnya kepada Allah Azza wa Jalla hanya bisa dicapai dengan ma'rifatullâh (mengenal Allah Azza wa Jalla dengan cara yang benar), melalui pemahaman terhadap nama-nama dan sifat-sifat-Nya.

Allah Azza wa Jalla berfirman: 

إِنَّمَا يَخْشَى اللَّهَ مِنْ عِبَادِهِ الْعُلَمَاءُ

Sesungguhnya yang takut kepada Allah diantara hamba-hamba-Nya, hanyalah orang-orang yang berilmu (mengenal Allah)" [Fâthir/35:28]

Dalam hadits yang shahîh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam : "Sesungguhnya aku adalah orang yang paling bertakwa kepada Allah Azza wa Jalla dan paling mengenal-Nya di antara kamu sekalian"[9] .

Imam Ibnu Katsîr rahimahullah berkata: "Arti (ayat di atas): Hanyalah orang-orang yang berilmu dan mengenal Allah Azza wa Jalla yang memiliki rasa takut yang sebenarnya kepada Allah Azza wa Jalla , karena semakin sempurna pemahaman dan pengetahuan (seorang hamba) terhadap Allah Azza wa Jalla , zat yang maha mulia, maha kuasa dan maha mengetahui, yang memiliki sifat-sifat yang maha sempurna dan nama-nama yang maha indah, maka ketakutan (hamba tersebut) kepada-Nya semakin besar pula"[10] .

Imam Ibnul Qayyim rahimahullah berkata: "Semakin bertambah pengetahuan seorang hamba terhadap (nama-nama dan sifat-sifat) Allah Azza wa Jalla , maka semakin bertambah pula rasa takut dan pengagungannya kepada-Nya, yang kemudian pengetahuannya ini akan mewariskan perasaan malu, pengagungan, pemuliaaan, merasa selalu diawasi, kecintaan, bertawakal, selalu kembali, serta ridha dan tunduk kepada perintah Allah Azza wa Jalla ."[11] 

Syaikh `Abdurrahmân as-Sa'di rahimahullah berkata: "Semakin banyak pengetahuan seseorang terhadap (nama-nama dan sifat-sifat) Allah Azza wa Jalla , maka rasa takutnya kepada-Nya pun semakin besar, yang kemudian rasa takut ini menjadikan dirinya (selalu) menjauhkan dirinya dari perbuatan-perbuatan maksiat dan (senantiasa) mempersiapkan diri untuk berjumpa dengan Zat yang ditakutinya (Allah Azza wa Jalla )."[12] 

5. Memahami tauhid asmâ` wa shifât Allah Azza wa Jalla dengan benar adalah satu-satunya cara untuk bisa meraih kenikmatan dan kemuliaan tertinggi di dunia dan akhirat.
Dalam hadits yang shahîh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Jika penghuni surga telah masuk surga, Allah Azza wa Jalla berfirman: “Apakah kalian (wahai penghuni surga) menginginkan sesuatu sebagai tambahan (dari kenikmatan surga)?" Maka mereka menjawab: "Bukankah Engkau telah memutihkan wajah-wajah kami? Bukankah Engkau telah memasukkan kami ke dalam surga dan menyelamatkan kami dari (azab) neraka?" Maka (pada waktu itu) Allah Azza wa Jalla membuka hijâb (yang menutupi wajah-Nya yang maha mulia), dan penghuni surga tidak pernah mendapatkan suatu (kenikmatan) yang lebih mereka sukai dari pada melihat (wajah) Allah Azza wa Jalla .” kemudian Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam membaca ayat berikut:

لِلَّذِينَ أَحْسَنُوا الْحُسْنَىٰ وَزِيَادَةٌ

Bagi orang-orang yang berbuat kebaikan, ada pahala yang terbaik (surga) dan tambahannya (melihat wajah Allah Azza wa Jalla )” [Yûnus/10:26][13] 

Imam Ibnul Qayyim rahimahullah dalam kitab beliau “Ighâtsatul lahafân ”[14] menjelaskan bahwa kenikmatan tertinggi di akhirat ini (melihat wajah Allah Azza wa Jalla ) adalah balasan yang Allah Azza wa Jalla berikan kepada orang yang merasakan kenikmatan tertinggi di dunia, yaitu kesempurnaan dan kemanisan iman, kecintaan yang sempurna dan kerinduan untuk bertemu dengan-Nya, serta perasaan tenang dan bahagia ketika mendekatkan diri dan berzikir kepada-Nya [15] , yang semua ini merupakan buah dari pemahaman yang benar terhadap nama-nama dan sifat-sifat Allah Azza wa Jalla .

Beliau menjelaskan hal ini berdasarkan lafazh doa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam sebuah hadits yang shahîh: “Aku meminta kepada-Mu (ya Allah Azza wa Jalla ) kenikmatan memandang wajah-Mu (di akhirat nanti) dan aku meminta kepada-Mu kerinduan untuk bertemu dengan-Mu (sewaktu di dunia)…”[16].

Penutup
Beberapa poin yang kami sebutkan di atas menggambarkan kepada kita agungnya kedudukan tauhid asmâ` wa shifât Allah Azza wa Jalla dan besarnya keutamaan mempelajari dan memahaminya. Masih banyak poin lain yang tentu tidak mungkin disebutkan semuanya di sini.

Semoga tulisan ini bermanfaat dan menjadi motivasi bagi kita untuk semakin giat dan bersungguh-sungguh mempelajari ilmu agama, terutama ilmu tauhid yang merupakan landasan agama Islam ini.

Ya Allah Azza wa Jalla , aku meminta kepada-Mu kenikmatan memandang wajah-Mu (di akhirat nanti), dan aku meminta kepada-Mu kerinduan untuk bertemu dengan-Mu (sewaktu di dunia), tanpa adanya bahaya yang mencelakakan dan fitnah yang menyesatkan.

وَصَلَّى الله ُوَسَلَّمَ وَبَارِكْ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَأَلِهِ وَ صَحْبِهِ أَجْمَعِيْنَ , وَأَخِرُ دَعْوَاناَ أَنِ الْحَمْدُ ِللهِ رَبِّ اْلعَا لَمِيْنَ

Kota Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, 7 Jumadal Akhir 1430 H

[Disalin dari majalah As-Sunnah Edisi 04/Tahun XIII/1430H/2009M. Penerbit Yayasan Lajnah Istiqomah Surakarta, Jl. Solo-Purwodadi Km.8 Selokaton Gondangrejo Solo 57183 Telp. 0271-858197 Fax 0271-858196]



Sumber : http://almanhaj.or.id/content/3388/slash/0/keutamaan-memahami-nama-nama-dan-sifat-sifat-allah-azza-wa-jalla/